Entah kenapa, aku semacam tergelitik untuk menulis tentang hal ini. mungkin kalian akan berfikir, apa hubungannya sinetron sama pekerjaan? Ya pasti ada. Pemain sinetron adalah salah satu jenis pekerjaan, begitu juga sutradara, penulis scenario, sampai kru yang kerjaannnya cuma gulung-gulung kabel kamera pun juga suatu pekerjaan. Sebenarnya, awal pemikiran dari tulisan ini adalah ketika suatu hari aku nonton infotaiment dan bener-bener tercengang dengan berita tentang artis kecil yang bahkan aku nggak tau kalo dia itu adalah seorang artis, tapi dia udah bisa beli rumah gede banget tingkat empat di bilangan jakarta hanya dari penghasilan dia main sinetron kurang dari satu tahun!!! JEGER..JEGER!!!!
Ini luar biasa. bahkan seorang pekerja dari perusahaan besar pun mungkin harus menabung bertahun-tahun untuk membeli rumah sebesar itu. Jadi inget kisah tentang seorang manohara. Seorang cewek blasteran bule yang nggak fasih ngomong bahasa Indonesia dan acting-nya jelek banget, dalam waktu cuma beberapa bulan aja dia udah bisa beli mobil mewah dan rumah di atas mall. Yup!! Rumah manohara itu di atas mall sodara-sodara!! dan rumahnya itu gede gila!
Jadi sebenernya berapa sih bayaran seorang artis?? Pernah baca artikel jaman dulu, waktu aku masih SD, ya mungkin tahun 90-an gitu, ada seorang diva, sebut saja krisdayanti (LOH?!), lagunya lagi laku banget dan laris manis di pasaran, dia lalu nyoba buat main sinetron juga. Waktu itu sinetron ramadhan (masih inget kan?). mau tahu berapa dia dibayar per episode-nya? 30-an juta. Padahal sinetron itu tayang tiap hari, mungkin total episode-nya adalah 40 episode. Ok, mari berhitung. 30 juta x 40 episode itu berarti Rp.1.200.000.000 !!! *pingsan* 1,2 miliyar di tahun 90-an akhir itu kira-kira bisa beli apaan aja ya??
Tapi itu belom seberapa sodara-sodara!! Balik lagi ke manohara. Nggak heran dia bisa beli ini itu seenak udel, karena bayarannya dia di sinetron “manohara” per episode-nya itu lebih besar dari pada bayaran-nya si diva waktu main sinetron. Kalo mau ngira-ngira, mungkin sekitar 50 jutaan kali ya? Dan sinetron “manohara” itu tayang kurang lebih 60 episode. Ok, kalian silahkan berhitung sendiri berapa total penghasilannya dia main sinetron perdananya itu. Nggak heran, kelar main sinetron dia bisa mandi duit, padahal acting-nya aja bener-bener di bawah pas-pasan.
Pemain-pemain sinetron ini mungkin bisa berkilah dengan bilang, mereka kan capek syuting tiap hari, harus ngapalin skenaario, dll. Tapi sebenernya ada yang jauh lebih capek dari pada mereka, tapi bayarannya bener-bener nggak setimpal sama apa yang udah mereka kerjain. Yup! The crew!!
Kru yang kerja di belakang layar itu udah pasti jauh lebih capek karena mereka harus udah prepare sebelum si artis dateng, dan pulang belakangan. Gara-gara barusan ngebacain timeline di twitter milik seorang penulis scenario sinetron yang cerita tentang suka duka pekerjaannya itu, aku jadi pengen ngebahas tentang ini juga.
Dia adalah alex, penulis scenario sinetron “manohara”. Oiya, penulis scenario sinetron itu nggak cuma 1 orang ya, tapi 1 tim, bisa jadi 4 orang atau lebih. Dia cerita kalo sinetron manohara ini bener-bener proyek berat buat mereka. Penulis scenario dipaksa untuk membuat cerita yang bagus dengan berkejaran dengan waktu dan suatu waktu cerita bisa dirombak total demi mendongkrak rating sinetron. Revisi berkali-kali mungkin udah jadi makanan sehari-hari. mereka sampai nggak tidur, nggak mandi, nggak makan, pokoknya bener-bener kerja keras buat ngerampungin scenario. Nggak heran kalo sinetron Indonesia ceritanya aneh bin ajaib. Lah, menulis cerita itu butuh kreatifitas. Nggak bisa sambil kejar-kejaran sama waktu kayak gitu, udah gitu alur ceritanya harus mengikuti rating penonton. Jujur, denger curhatan si penulis scenario ini, aku jadi salut sama pekerjaan mereka. Mungkin kita sebagai penonton bisa dengan santai ganti chanel tv kalo nggak suka sama ceritanya dan bisa caci maki seenaknya , tapi buat mereka yang mati-matian bikin scenario sinetron, mau nggak mau harus tetep kerja rodi, berusaha setengah mati biar rating penonton naik. Tapi apakah bayaran mereka setimpal? Jelas nggak! Kalo dibanding sama penghasilan si artis sih, penghasilan penulis scenario mungkin kayak recehan doang.
Tapi emang begitulah hidup. Ada yang gampang banget dapet duit sampai bingung mau dibuang kemana tu duit, ada yang mati-matian kerja dengan hasil yang nggak seberapa. Satu-satunya cara emang bersyukur. Tapi bersyukur aja mungkin nggak cukup, untuk kasus dunia sinetron tadi, mungkin harus bener-bener ada yang dibenahi, kalo nggak mau dunia hiburan kita jadi makin terpuruk karena manajemen yang buruk kayak gitu. Semoga suatu hari nanti akan ada masa dimana kerja keras berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar